Data MasterCard Crescent Rating 2019 menunjukkan Indonesia menjadi destinasi wisata halal terpopuler bersama Malaysia. Namun di sisi lain, pada kurun 2019 terjadi penolakan atas Wisata Halal di beberapa wilayah di Indonesia sebut saja Bali, Sulawesi Selatan, Sumatera Utara, dan Nusa Tenggara Timur. Artikel ini mencoba menganalisis mengapa terjadi penolakan wisata halal di tengah pertumbuhan wisata halal di Indonesia. Apakah lebih karena menguatnya gelombang Islamisme akhir-akhir ini yang tertunggangi kepentingan politik praktis sebagai wujud hegemoni sehingga menghadirkan antitesisnya yakni fobia sebagai wujud konter hegemoni, sehingga potensi besar dari wisata halal itu sendiri tidak lagi dilihat sebagai potensi besar yang bisa menyejahterakan siapapun sebagai wujud universalitasitas wisata halal. Penelitian deskriptif analitis dengan data sekunder ini menggunakan analisis wacana untuk menjawab rumusan masalah dengan pisau iris konsep hegemoni dan politik identitas. Hasil penelitian menunjukan bahwa penolakan wisata halal secara signifikan dipengaruhi oleh politik identitas yang terkait dengan friksi politik di level nasional dan lokal.