Tulisan ini mendiskusikan proses adaptasi sosial masyarakat Ngindungan di Kauman Yogyakarta yang berlangsung antara 1900-an hingga 1970-an. Ngindungan adalah sebutan yang disematkan oleh masyarakat Kauman atas kawasan di timur laut Kauman yang ditinggali oleh orang-orang pendatang. Mereka adalah buruh batik yang mencari peruntungan di Kauman seiring berkembangnya ekonomi batik di Kauman di awal hingga pertengahan abad 20. Seiring berjalannya waktu, jumlah buruh batik terus bertambah dan diikuti dengan meningkatnya kebutuhan tempat tinggal sementara bagi para buruh tersebut. Maka tinggallah mereka di wilayah timur laut Kauman dan kemudian menetap di sana. Terdapat perbedaan keberagamaan masyarakat Ngindungan dan Kauman yang merupakan abdi dalem agama di Kasultanan Yogyakarta. Perbedaan tersebut pada mulanya memunculkan gap sosial antara keduanya. Namun, proses adaptasi sosial yang merubah masyarakat Ngindungan setidaknya membuat mereka lebih diterima oleh masyarakat Kauman. Meskipun begitu stereotip identitas belum sepenuhnya hilang karena sebagian masyarakat Kauman masih menyebut kata Ngindungan, meski di dalam masyarakat Ngindungan sudah terjadi perubahan sosial dan upaya integralisasi agar diterima sebagai masyarakat Kauman. Tulisan ini menggunakan pendekatan historis dengan menggunakan sumber-sumber sekunder dan wawancara.
Rumpun Ilmu
Sejarah (Ilmu Sejarah)
Bahasa Asli/Original Language
Bahasa Indonesia
Level
Nasional
Status
Dokumen Karya
No
Judul
Tipe Dokumen
Aksi
1
165-Article Text-381-1-10-20201006.pdf
[PAK] Full Dokumen
2
EVOLUSIONISME DALAM ADAPTASI SOSIAL MASYARAKAT NGINDUNGAN DI KAMPUNG KAUMAN YOGYAKARTA, 1900-AN-1970-AN.pdf